Awal Suku Batak Hingga Memiliki Banyak Marga

 Warga Batak.Awal Suku Batak Hingga Memiliki Banyak Marga.Mengapa Jumlah Marga Pada Suku Batak Sangat Banyak?kutipan ini adalah salah satu pertanyaan yang banyak terbesit dipikiran orang banyak Mengingat orang batak yang jumlahnya sangat banyak tersebar di belahan dunia dan merupakan Salah satu dari banyak Suku yang berpengaruh di Negara Republik Indonesia.

Jika Kita memasuki wilayah atau daerah tertentu,baik di negara lokal maupun internasional tentunya tidak jarang kita akan bertemu orang-orang yang berdarah batak serta memiliki marga batak di belakang nama.

Bahkan Karena Banyaknya persebaran suku Batak di Dunia ini,kini jumlah marga batak kurang lebih telah mencapai sekitar 500 lebih marga yang tersemat di belakang namanya sesuai puak atau sub suku batak dari Batak Mandailing,Batak Toba,Batak Karo,Batak Tapsel,Batak pak-pak,Batak Simalungun.


Marga Pada Suku Batak,yang berfungsi sebagai cara mengidentifikasi Silsilah Keturunan,Dimana Marga Pada Batak dulunya berawal dari Sang Raja-raja Pada Suku Batak.

Mengutip Dari Simanjuntak, Bungaran Antonius. (2006). Pada Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba hingga 1945: Suatu Pendekatan Antropologi Budaya dan Politik. Jakarta: dari Yayasan Obor Indonesia. Disebutkan;

Awal Suku Batak Hingga Memiliki Banyak Marga
Tugu/Tongkat/tungkot/tunggal Panaluan


Awal Suku Batak Hingga Memiliki Banyak Marga

Menurut cerita tentang asal-usul orang Batak, dikatakan bahwa Dulunya  nenek moyang dari Suku Batak merupakan  seorang putri surga bernama Siboru Deak Parujar, yang menikah dengan Raja Odap-odap.


Dari perkawinan inilah  lahir anak kembar bernama Raja Ihot Manisia (laki-laki) dan Boru Ihot Manisia (perempuan).


Raja Ihot Manisia mempunyai tiga anak, salah satu di antaranya adalah Raja Miokmiok, yang kemudian memiliki anak bernama Eng Banua.


Eng Banua memiliki tiga anak bernama Raja Bonang-bonang, Si Raja Atseh, dan Si Raja Jau.


Orang Batak adalah keturunan Si Raja Bonang-bonang, sementara Si Raja Atseh diduga menurunkan orang Aceh, dan Si Raja Jau merupakan nenek moyang orang Minangkabau atau Jawa.


Di dalam mitos disebutkan bahwa Si Raja Bonang-bonang memiliki satu anak bernama Guru Tantan Debata, yang anaknya bernama Si Raja Batak.

Suku Batak terbagi ke dalam enam sub-suku atau puak. Masing-masing puak terdiri dari banyak marga, yang apabila dijumlah mencapai hampir 500 marga.


Berikut ini contoh nama marga Pada Suku Batak dari masing-masing puak atau sub suku Batak.


Batak Toba: Aritonang, Aruan, Hasibuan, Hutabarat, Hutapea, dst.

Batak Karo: Ginting, Karo-karo, Sembiring, Tarigan, Purba, Silalahi, dst.

Batak Pakpak: Bintang, Lingga, Tinambunan, Ujung, dst.

Batak Simalungun: Damanik, Simanjorang, Tondang, Tambak, dst.

Batak Angkola: Siagian, Silo, Siregar, Matondang, Nasution, dst.

Batak Mandailing: Batubara, Daulay, Harahap, Lubis, Tanjung, dst.

Selain enam puak tersebut, marga Batak juga didasarkan pada tempat tinggalnya. Misalnya Batak Pesisir Barat Barus, Batak Barat Sibolga, Batak Alas, Batak Kluwet, dan sebagainya.


Marga di luar enam puak utama dikatakan sebagai marga baru, yang merupakan hasil adaptasi dan asimilasi penduduk dari generasi ke generasi.


Sedangkan untuk menemukan seseorang berasal dari garis keturunan mana dan bagaimana posisinya dalam sebuah marga, dapat menggunakan Torombo.


Dengan menggunakan Torombo, dapat diketahui asal-usul seseorang yang berujung pada Si Raja Batak.


Si Raja Batak kemudian mempunyai dua anak, yaitu Guru Tatea Bulan dan Si Raja Isumbaon. Dari dua anak Si Raja Batak inilah kemudian berkembang marga-marga masyarakat Batak.



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak